Psikolog vs Psikiater

Psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog. Psikiater adalah dokter spesialis yang tetah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa. Jadi psikiater adalah dokter yang mempelajari itmu jiwa.

Apa Tugas Psikiater dan Psikolog

Psikiater adalah dokter spesialis di bidang kesehatan jiwa (jiwa=pikiran, perasaan, dan perilaku). Definisi sehat menurut WHO adalah sehat badan, jiwa, dan sosial. Psikolog harus mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa perilaku itu bisa terjadi, berupa indikasi yang tampak. Hasil dapat berupa penjelasan atau pembahasan yang bersifat deskriptif.

Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan dimaksudkan untuk memberikan pengaruh dalam kegiatan pendidikan pembelajaran dan proses belajar mengajar yang lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan tingkah laku anak didik. Keadaan sistem pembelajaran, cara mengajar, dan anak didik di setiap daerah tidaklah sama.

Psikologi Kepribadian

Psikologi kepribadian adalah salah satu cabang-cabang psikologi. Sesuai dengan namanya psikologi kepribadian mempelajari kepribadian individu dengan menggunakan berbagai cara dan pendekatan.

Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi industri dan organisasi merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi. Psikologi industri dan organisasi membahas psikologi dalam lingkup organisasi atau aturan kerja. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut psikologi industri dan organisasi. Inggris menyebut psikologi industri dan organisasi sebagai Occupational Psychology.

Sabtu, 28 April 2018

Psikologi Sosial

Psikologi Sosial – Pengertian, Teori, Ruang Lingkup dan Konsepnya

Hasil gambar untuk artikel Psikologi Sosial


Psikologi sosial merupakan keilmuan yang mempelajari tentang hubungan antara manusia dan kelompok pada lingkungannya yang dipengaruhi dengan perilaku manusia. Dalam kehidupan bersosial, terkadang ada kalanya kita mempunyai hubungan yang tidak baik dengan manusia lainnya, terjadi hal -hal yang mencetuskan pertengkaran, pertikaian, atau perselisihan antar kelompok yang bisa terjadi diantara keluarga, teman, tetangga, dan lainnya.
Kemudian, hal ini yang mendorong perkembangan ilmu psikologi sosial untuk mempelajari hubungan antar manusia dan perilaku yang mempengaruhi hubungan tersebut. Hubungan antar manusia yang dipengaruhi oleh tingkah laku, sikap, dan juga pembuatan keputusan berasa dari psikologi sosial dan bisa melahirkan respon yang bersifat destruktif ataupun konstruktif.

Pengertian Psikologi Sosial

Psikologi sosial terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan sosial. Psikologi diartikan sebuah bidang ilmu pengetahuan yang fokus terhadap perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah. Kemudian, sosial merupakan segala perilaku yang berhubungan dengan hubungan antar individu. Jadi, pengertian psikologi sosial bisa diartikan juga merupakan bidang keilmuan yang mempelajari tentang perilaku dan mental manusia yang berkaitan dengan hubungan antar individu dalam masyarakat.
Berikut ini merupakan pengertian psikologi sosial menurut para ahlinya :
  1. Hubber Bonner menyatakan psikologi sosial merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.
  2. Shaw dan Costanzo menyatakan bahwa psikologi sosial merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku individu yang merupakan rangsangan sosial.
  3. Kimbal Young menyatakan bahwa psikologi sosial merupakan studi tentang proses interaksi individu.
  4. Sherif Bersaudara menyatakan dalam bukunya yang berjudul ‘An Outline of Social Psycology’ yaitu psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mepelajari pengalaman dan tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan situasi situasi perangsang sosial.
  5. Gordon W. Allport menyatakan bahwa psikologi sosial merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengerti bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku individu dipengaruhi  oleh kenyataan atau kehadiran orang lain.
  6. Joseph E. Mc. Grath menyatakan bahwa psikologi sosial adalah ilmu yang menyelidiki perilaku manusia yang dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan, dan lambang dari orang lain.
  7. Secord dan Backman menyatakan bahwa psikologi sosial meruppakan ilmu yang mempelajari individu dan konteks sosial.

Konsep Dasar Psikologi Sosial

Interaksi sosial manusia di masyarakat baik itu antar individu, individu dan kelompok ataupun antar kelompok memiliki respon kejiwaan. Reaksi kejiwaan seperti sikap, emosional, perhatian, kemauan. Kemudian juga motivasi, harga diri dan lain sebagainya tercakup dalam psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan ilmu mengenai proses pekembangan mental manusia sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, psikologi sosial mempelajari hal hal yang meliputi perilaku manusia dalam konteks sosial.
Kemudian, kondisi dalam berinteraksi sosial dipengaruhi tidak hanya oleh proses kejiwaan namun juga kondisi lingkungan. Faktor lingkungan berlaku seperti norma, nilai, aturan sosial, budaya, cuaca, dan lainnya. Lingkungan tersebut mempengaruhi harga diri, etos kerja, kebanggan, semangat hidup, ataupun kesadaran orang dalam kehidupan sehari – hari. Peranan keluarga, teman sejawat, dan orang orang dalam lingkungan juga mendorong semangat, prestasi, seseorang dalam mencapai keberhasilan. Konsep – konsep dasar psikologi sosial menjadi salah satu bagian dari kajian ilmu sosial sebagai berikut :
  1. Emosi terhadap objek sosial
Emosi dan reaksi emosional dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Ketajaman emosi dan reaksi emosional dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Pengendalian respon emosi sangat penting dalam kehidupan bersosial. Emosi merupakan kajian dari psikologi sosial yang memiliki peranan penting dalam pembentukan perilaku seseorang teradap respon dari stimulus dalam lingkungan sosial. Bahkan, emosi juga sebagai potensi kepribadian yang perlu dilakukan pembinaan psikologis misal bisa melalui pendidikan keagamaan.
  1. Perhatian
Perhatian atau rasa peka terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan sosial seseorang juga mempengaruhi cara seorang individu bersikap terhadap hubungan sosialnya.
  1. Minat
Minat atau daya tarik individu terhadap hubungan sosialnya juga berpengaruh terhadap hubungan antar individu dan kelompok berkaitan dengan proses interaksi dan pemberian respon. Minat muncul dari dalam diri individu dan mungkin bisa dipengaruhi oleh subjek subjek dari luar seperti keluarga, budaya, lingkungan.
  1. Kemauan
Kemauan merupakan suatu potensi yang mendorong dalam diri individu untuk memperoleh dan mencapai suatu yang diinginkan. Keinginan yang kuat merupakan modal dasar dari suatu pencapaian. Kemauan menjadi landasan yang kuat untuk melakukan sesuatu untuk berprestasi.
  1. Motivasi
Motivasi sebagai konsep dasar yang timbul dari dalam diri sendiri dan juga bisa didapatkan dari lingkungan atau orang terdekat. Motivasi merupakan kekuatan yang mampu mendorong kemauan untuk mencapai sesuatu. Kemudian motivasi yang keras akan memperkuat perjuangan seorang individu untuk mencapai apa yang diinginkan.
  1. Kecerdasan dalam menanggapi persoalan sosial
Kecerdasan merupakan modal dasar yang ada dalam diri individu masing masing dan berbeda pada setiap individu. Kemudian juga merupakan modal dasar untuk memecahkan permasalahan sosial yang muncul. Potensi kecerdasan yang karakternya bersifat kognitif akan lebih mudah diukur. Sedangkan kecerdasan yang sifatnya afektif lebih sulit diukur dan dievaluasi dengan aspek kecerdasan. Kecerdasan juga sangatlah penting bagi individu untuk menjalani kehidupan dan masalah masalah hidup yang terus terjadi.
  1. Penghayatan
Penghayatan adalah proses kejiwaan yang sifatnya menuntut suasana yang tenang. Proses ini tidak hanya melibatkan sikap merasakan, memperhatikan, menikmati atau lainnya, namun lebih dari itu. Hal -hal yang terjadi dalam proses interaksi sosial, dirasakan serta diikuti dengan tenang sehingga menimbulkan kesan yang mendalam pada diri masing masing individu. Proses penghayatan ini dilakukan dalam kondisi penuh kesadaran. Penghayatan penuh akan lebih sulit dilakukan.
  1. Kesadaran
Kesadaran perlu ada dalam melakukan suatu tindakan, mengambil keputusan dalam interaksi dengan kehidupan sosial. Kesadaran pada individu ditentukan oleh individu itu sendiri setelah melihat apa yang terjadi pada lingkungan sosialnya sebagai respon psikologis yang positif.
  1. Harga diri
Harga diri merupakan konsep yang menciptakan manusia sebagai makhluk hidup yang bermartabat. Martabat atau harga diri yang terbina dan dipelihara akan menjadi perhitungan bagi pihak individu lain dalam memandang individu. Harga diri yang dijatuhkan akan merusak martabat individu dan dimanfaatkan oleh orang lain untuk hal yang tidak positif.
  1. Sikap mental
Sikap mental merupakan reaksi yang timbul dari diri masing-masing individu jika ada rangsangan yang datang. Reaksi mental bisa bersifat positif, negatif, dan juga netral. Hal tersebut tergantung pada kondisi diri masing masing individu serta bergantung pula pada sifat rangsangan yang datang. Rangsangan yang datang akan direspon oleh individu melalui sikap atau reaksi mental yang bisa dikatakan positi, negatif ataupun netral.
  1. Kepribadian
Kepribadian merupakan gagasan yang dinamika, sikap, dan kebiasaan yang dibina oleh potensi biologis secara psiko-fisiologikal dan secara sosial ditransmisikan melalui budaya, serta dipadukan dengan kemauan, dan tujuan individu berdasarkan keperluan pada lingkungan sosialnya.
Konsep dasar kepribadian menurut Brown bersaudara yaitu sebagai ungkapan denotatif, sedangkan yang dikemukakan oleh Hart dalam pengertian konotatif yang lebih komprehensif. Kepribadian itu bersifat unik yang memadukan potensi internal dengan faktor eksternal berupa lingkungan terbuka. Faktor eksternal seperti lingkungan itu sangat kuat. Faktor lingkungan mampu berperan aktif dalam memberikan pengaruh positif terhadap pembinaan kepribadian. Kepribadian yang kokoh dan kuat diperlukan untuk pembangunan kehidupan yang baik dan mengatasi tantangan tantangan atau persaingan yang semakin berat di lingkungan sosial.

Teori Psikologi Sosial

Berikut ini adalah teori -teori dalam psikologi sosial :
  1. Teori Penguatan (Reinforcement Theory)
Teori penguatan ini berdasarkan pendekatan behaviorisme terdiri dari beberapa teori yaitu :
  • Teori Belajar Sosial dan Imitasi (Theories of Social Learning and Imitation)
Mekanisme imitasinya dibagi menjadi 3, yaitu (1) Same behavior : perilaku yang menyatakan tingkah yang sama antara dua individu terhadap rangsang yang sama. (2) matched-dependent behavior : perilaku meniru orang lain yang dianggap lebih superior. Perilaku pihak kedua akan menyesuaikan perilaku pihak pertama. (3) Copying : perilaku meniru atau dasar isyarat (tingkah laku) dari model yang diberikan, termasuk model di masa lampau.
  • Observational Learning
Dikemukakan oleh Bandura dan Waltens, bahwa tingkah laku tiruan merupakan bentuk asosiasi dari suatu rangsang. Teori ini dapat pula menerangkan timbulnya emosi yang sama dengan emosi pada model. Menurut mereka terdapat tig macam pengaruh tingkah laku model : (1) Modeling effect : peniru melakukan tingkah laku baru sesuai dengan model. (2) Inhibition dan disinhibition: tingkah laku tidak sesuai dengan tingkah laku model akan dihambat dan tingkah laku yang sesuai dengan model akan dihapuskan segala hambatannya. (3) Facilitation effect : perilaku model sudah dipelajari i=oleh penitu kemudian muncul lagi dengan mengamati perilaku model.
  1. Teori Penguatan Sosial (Social Reinforcement Exchange Theories)
Teori ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
  • Teori Tingkah Laku Sosial Dasar (Behavioral Sociological Model of Social Exchange). Dicontohkan oleh Homas pada teori ini bahwa pada hakekatnya sama dengan proses jual beli dimana kedua belah pihak saling memberi harga dan mencari keuntungan.
  • Teori Hasil Interaksi (Theory of Interpersonal Independence). Hubungan dua orang atau lebih dimana saling tergantung untuk mencapai hasil dan memaksimalkan hasil positif bagi tiap peserta interaksi.
  • Teori Fungsional dari Interaksi Otoriter (Equity Theory). Menurut Walster, Berscheid, dan Adams, teori ini membicarakan tentang keadilan dan ketidakadilan dalam hubungan interpersonal. Setiap kontribusi yang diberikan disebut input bersifat negatif contohnya seperti usaha, kerja, dll, dan sesuatu yang diterima disebut outcome bersifat positif afeksi seperti semangat, minat.
  1.  Teori Orientasi Lapangan (Field Theoretical Orientation)
Cara penting pendekatannya menurut Lewin, et al yaitu penggunaan metode konstruktif, pendekatan dinamis, penekanan pada proses psikologis, analisis didasarkan pada situasi secara keseluruhan, Perbedaan antara masalah yang sistematis dan historis, dan representasi matematis dari situasi psikologis.
  1. Teori Peran (Role Theory)
Role atau peran seseorang akan tergantung pada role orang lain dan konteks sosialnya. Biddle dan Thomas membagi peran dalam empat golongan yaitu : (1) orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial. (2) perilaku yang muncul dalam interaksi. (3) kedudukan orang dalam perilaku. (4) kaitan antara orang dan perilaku.
  1. Teori Orientasi Kognitif (Cognitive Theory Orientation)
Teori ini berhubungan dengan proses kognitif yang dibagi menjadi beberapa macam teori lagi :
  • Krech & Crutchfield’s Cognitive Theory
Motivasi bersifat molar, melibatkan kebutuhan dan tujuan. Ketidakstabilan psikologi dapat menyebabkan ketegangan yang mempengaruhi persepsi, kognisi, dan tindakan. Keputusasaan mencapai tujuan atau kegagalan akan muncul dalam berbagai perilaku adaptif maupun maladaptif.
  • Cognitive Consistency Theories
Teori ini berpangkal pada perasaan yang ada pada seseorang (P), terhadap orang lain(X) dan hal lainnya (X).  Terdapat didalamnya prinsip keselarasan mengenai peramalan perubahan sikap dalam situasi tertentu. Teori kognitif menekankan bahwa kondisi kognitif yang tidak konsisten dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengarah pada perilaku agar tercapai kenyamanan itu kembali.
  • Teori Atribusi
Teori ini menjelaskan mengenai bagaimana seseorang menentukan dikap, sifat, atau karakteristik berdasarkan apa yang diketahui mengenai orang tersebut pada situasi dan dengan perilaku tertentu.
  • Theories of Social Comparison, Judgement and Perception
Proses saling mempengaruhi dan perilaku bersaing dalam interaksi sosial menimbulkan kebutuhan untuk menilai diri sendiri dengan membandingkan diri dengan diri orang lain. Ada dua hal yang dibandingkan yaitu pendapat dan kemampuan. Manusia biasa melakukan perbandingan diri misalnya seperti kata – kata atau pendapat mana yang lebih baik, ataupun siapa yang memiliki keunggulan tertentu.

Pendekatan dalam Psikologi Sosial

Berikut ini beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dalam psikologi sosial :
Pendekatan Biologis
Psikologi sosial dengan pendekatan biologis diutarakan oleh Mc. Dougall dkk tentang yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya :
  • Naluri manusia yang sudah ada sejak lahir dan tidak dapat dirubah. Adanya dorongan bawaan yang mengarah pada perilaku destruktif meskipun bawaan tersebut bisa diarahkan pada perilaku yang konstruktif.
  • Perbedaan genetik kromosom XYY lebih besar kemungkinan menjadi penjahat, kerusakan otak dan bisa menyebabkan agresivitas pada hewan.
Pendekatan Belajar
Pendekatan Insentif
Pendekatan Kognitif

Ruang Lingkup Psikologi Sosial

Shaw dan Constanzo membagi ruang lingkup psikologi sosial menjadi tiga, yaitu :
  1. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses pada individu yang dicontohkan seperti studi tentang persepsi, motivasi proses belajar.
  2. Studi tentang proses proses individu bersama, seperti bahasa, sikap, perilaku, dan lainnya.
  3. Studi tentang interaksi dalam kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi, persaingan, kerjasama, dan lainnya.
Seperti yang di jelaskan oleh Ahmadi, 2005, bahwa psikologi sosial menjadi objek studi dari segala gerak gerik atau tingkah laku yang timbul dalam lingkungan sosial. Oleh karena itu masalah pokok yang dipelajari adalah pengaruh sosial terhadap perilaku individu. Masalah yang dikupas dalam psikologi sosial merupakan manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan antar individu dalam suatu kelompok. Psikologi sosial meninjau hubungan individu yang satu dengan yang lainnya.

Tujuan Psikologi Sosial

Tujuan psikologi sosial dijabarkan sama seperti disiplin ilmu lainnya. Dimana terdapat tujuan instruksional dalam bentuk tujuan kurikuler atau tujuan pembelajaran. Tujuan kurikuler dalam psikologi sosial, terdapat lima tujuan yang perlu dicapai, yaitu :
  1. Situasi sosial tidak semuanya baik, sehingga peserta didik perlu mendapat pengetahuai tentang psikologi sosial agar tidak terpengaruh, tersugesti, oleh situasi sosial yang tidak baik tersebut.
  2. Peserta didik dibekali pengetahuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial secara sistematis dan menanamkan proses kejiwaan yang berkaitan tentang hubungan kehidupan bersama yang saling mempengaruhi.
  3. Peserta didik dibekali dengan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan sesama individu dalam masyarakat sehingga memudahkan melakukan pendekatan untuk mewujudkan perubahan kepada tujuan dengan sebaik- baiknya.
  4. Peserta didik dibekali dengan kesadaran akan kehidupan bersosial dan lingkungannya untuk merubah sifat dan perilaku sosialnya lebh baik.
  5. Peserta didik dibekali dengan kemampuan pengembangan pengetahuan dan keilmuan psikologi sosial dalam perkembangan kehidupan, perkembangan masyarakat, lingkungan, teknologi, dan keilmuan.
Kelima tujuan diatas merupakan tujuan pengajaran psikologi sosial yang harus dicapai anak didik sebagai hasil pembelajaran kurikulum psikologi sosial.

Manfaat Psikologi Sosial

Hadirnya keilmuan psikologi sosial ditujukan untuk memberikan manfaat terhadap perubahan perilaku manusia dalam kehidupan bersosial. Dan juga meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat. Berikut ini adalah manfaat yang didapat dari mempelajari psikologi sosial dan menerapkannya dalam lingkungan bermasyarakat.
  1. Memberikan gambaran kepada manusia tentang bagaimana menjalin hubungan yang ideal antar sesama manusia sebagai makhluk sosial.
  2. Mencegah terjadinya konflik di antara kehidupan manusia yang disebabkan oleh ego dari setiap individu dalam hubungannya dengan masyarakat.
  3. Memberikan solusi ketika konflik muncul di dalam kelompok masyarakat. Dengan psikologi sosial, manusia bisa memahami karakter suatu masyarakat sehingga mudah untuk menemukan solusi dari konflik yang tengah terjadi dalam masyarakat.
  4. Sebagai pedoman masyarakat dalam mengelola perbedaan antar individu dalam masyarakat. Dan juga menjadikan perbedaan itu sebagai pemerkuat hubungan sosial dalam masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.
Implementasi Psikologi Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat
Setiap masalah berasal dari ketidakseimbangan yang ditimbulkan antar individu dalam perilaku dan interaksi sosial. Munculnya masalah dan ketidakefektifan penyelesaian berasal dari psikologi seseorang terhadap kehidupan sosialnya yang bisa berdampak positif atau negatif.
Dalam beberapa kasus, psikologi sosial membantu memecahkan masalah dengan perangsang sosial pendidikan, agama, dan lingkungan yang baik. Pada beberapa kasus dengan individu dari lingkungan yang tidak kondusif, memperikan pengertian atau perhatian yang buruk akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang yang berdampak pada hubungan interaksi sosial yang buruk. Maka dari itu pentingnya psikologi sosial ini dalam hubungan interaksi bermsyarakat mendukung kehidupan harmonis antar individu dan penyelesaian masalah yang saling menguntungkan.
Menurut Arifin, 2004, dalam hal ini yang paling penting adalah penanaman jiwa keagamaan sejak dini. Peranan keagamaan pada diri individu diharapkan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat negati dalam kehidupan bermasyarakat.
Misalnya, kasus pemukulan siswa oleh temannya di sekolah. Situasi tersebut terjadi sebagai akibat dari proses psikologi sosial maladaptif. Individu tersebut mungkin tidak mendapatkan pendidikan atau contoh yang baik dari keluarganya, atau lingkungannya yang berakibat pembentukan kejiwaan yang maladaptif. Kondisi kejiwaan mempengaruhi emosi seseorang dalam situasi tertentu. Inisiatif pemecahan masalah diantara kedua pihak tidak bisa dilakukan karena pertumbuhan kejiwaan yang maladaptif dari lingkungannya.
Kemudian, hasil dari psikologi maladaptif yang dibawa dari keluarga dan lingkungannya kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku individu tersebut pada setiap lingkungan dimana dirinya berada. Psikologi sosial perlu diajarkan dan ditanamkan pada tiap individu agar dapat berinteraksi dengan orang orang di sekitarnya dengan baik, dan hidup dengan nyaman.
Demikian penjabaran tentang psikologi sosial dan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pentingnya psikologi sosial mempengaruhi kehidupan kita dalam berinteraksi dengan orang lain dan juga menjadi dasar karakteristik perilaku seseorang yang dapat berdampat positi maupun negatif baik bagi individu tersebut maupun kesejahteraan kehidupan bersosialisasi di masyarakat.
Kemudian, psikologi sosial menitikberatkan pada kondisi kejiwaan seseoran yang dipengaruhi oelh berbagai aspek dan dihubungkan dengan hubungan atau iteraksi individu dengan individu lainnya maupuan dengan lingkungannya dalam bermasyarakat. Dengan konsep dasar saling membutuhkan, psikologi sosial membawa perubahan perilaku bagi setiap individu yang menginginkan perubahan hidup menjadi lebih baik.

Sumber : https://dosenpsikologi.com/psikologi-sosial

Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini – Pengertian dan Ruang Lingkup


Hasil gambar untuk artikel psikologi perkembangan
Perkembangan dan pertumbuhan seorang anak mempunyai beberapa masa penting yang tidak bisa di lewatkan begitu saja. Masa penting dalam perkembangan seorang anak adalah ketika ia masih berusia dini, yaitu ketika lahir hingga usianya mencapai balita.
Ada yang menyebut bahwa masa golden age anak adalah dari usia 0 – 5 th namun ada pula yang menyatakan bahwa masa emas pertumbuhan anak adalah dari usia 0-8 tahun. Usia dini adalah waktunya seorang anak mengalami perkembangan secara kognitif, fisik, sosial dan emosional. Menyaksikan seorang anak mengalami perkembangan motorik, kognitif, emosi, bahasa dan sosial adalah suatu hal yang menakjubkan bagi orangtua atau pengasuhnya.Masa – masa tersebut seringkali disebut sebagai golden age, yaitu masa – masa dimana seorang anak sedang menyerap segala sesuatu yang ada dalam lingkungannya dan yang ada di sekitarnya, dan semua yang diserapnya tersebut akan mempengaruhi perkembangan anak secara mental dan kepribadian.
Tentang Psikologi Perkembangan
Menyaksikan seorang anak mengalami perkembangan yang pesat seringkali membuat para orang tua takjub dan kewalahan, bahkan tidak bisa mengikuti secara detil perkembangan si anak. Studi tentang perkembangan manusia adalah sebuah materi yang kaya dan bervariasi.
Walaupun semua orang memiliki pengalaman sendiri mengenai perkembangannya, namun terkadang sulit untuk benar – benar memahami bagaimana tepatnya manusia tumbuh, berubah dan belajar. Membicarakan psikologi anak usia dini, juga tidak dapat dilepaskan dari kajian tentang kognitif, afektif dan psikomotorik yang diperlukan dalam psikologi pendidikan yang perlu diketahui orang tua dan guru.
Psikologi perkembangan adalah bagian dari cabang – cabang psikologi berupa suatu kajian yang dilakukan untuk memahami dan menjelaskan bagaimana manusia bertumbuh dan berubah di sepanjang garis hidupnya. Para peneliti menjelajah berbagai macam hal yang dapat mempengaruhi, termasuk bagaimana susunan genetik dapat mempengaruhi perkembangan anak sebagaimana juga pengalaman berperan dalam hal tersebut.
Termasuk ke dalam psikologi perkembangan anak usia dini adalah perkembangan fisik, kognitif, bahasa, moral dan sosio- emosional. Sedangkan psikologi anak membahas tentang tumbuh kembang anak secara lebih spesifik.
Ruang Lingkup Perkembangan Anak Usia Dini
Terdapat beberapa ruang lingkup psikologi perkembangan anak usia dini , diantaranya:

A. Perkembangan Fisik Anak Usia Dini

Seiring dengan pertambahan usia anak, para orang tua biasanya menunggu dengan antusias mengenai perkembangan apa yang akan ditunjukkan anak, seperti misalnya kemampuan untuk duduk, berguling, atau tengkurap dan sebagainya.
Setiap kemajuan yang ditunjukkan anak merupakan bagian dari perkembangan fisik. Proses perkembangan anak biasanya terjadi secara berurutan, maka dari itu biasanya satu langkah kemajuan akan berlangsung lebih dulu sebelum yang lainnya.
Contoh, pada umumnya seorang anak akan belajar merangkak terlebih dulu sebelum ia bisa belajar untuk berjalan. Namun, tingkat pencapaian perkembangan ini akan bervariasi pada setiap anak. Bisa saja beberapa anak dapat lebih dulu berjalan dibandingkan teman – teman seusianya, sedangkan yang lainnya memerlukan waktu lebih banyak untuk bisa berjalan. Ada dua macam tipe perkembangan fisik anak usia dini:

a. Perkembangan Motorik

Sejalan dengan pertumbuhan seorang anak, maka kemampuan motoriknya juga akan bertambah matang. Anak akan menjadi semakin mampu melakukan gerakan – gerakan yang lebih kompleks. Terkadang, tingkat pertumbuhan motorik anak ini akan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua.
Biasanya, orang tua khawatir akan apakah sang anak mampu menunjukkan perkembangan sesuai dengan tahapan yang seharusnya dia lalui. Normalnya, hampir semua anak akan mampu berkembang sesuai tahapan yang biasa, kecuali memang ada suatu tanda – tanda yang menunjukkan sebaliknya. Dua tipe perkembangan motorik anak yaitu:
Motorik Kasar
Tipe ini termasuk ke dalam penggunaan otot yang lebih besar yaitu tangan dan kaki. Aktivitas yang memerlukan motorik kasar adalah berjalan, berlari, koordinasi dan keseimbangan. Ketika para ahli mengevaluasi kemampuan motorik kasar, aspek – aspek yang dilihat adalah kekuatan dan intensitas otot, kualitas gerakan, dan rentang pergerakan.
Motorik Halus

b. Pertumbuhan Fisik

Pada anak – anak, perkembangan fisik mengikuti suatu pola tertentu:
  • Otot besar berkembang sebelum otot yang lebih kecil. Otot di bagian pusat tubuh, lengan dan kaki berkembang lebih dulu sebelum otot yang terletak di jari dan tangan. Anak – anak belajar untuk menguasai kegiatan yang menggunakan motorik kasar lebih dulu sebelum dapat menguasai gerakan yang menggunakan fungsi motorik halus.
  • Bagian tengah tubuh berkembang sebelum area lainnya. Otot – otot yang bertempat di bagian tengah tubuh menjadi semakin kuat dan berkembang lebih awal daripada otot – otot yang berada di kaki dan tangan.
  • Perkembangan mulai dari atas ke bawah dan sebaliknya. Inilah sebabnya seorang bayi terlebih dulu belajar untuk mengangkat kepalanya sebelum ia bisa belajar berjalan, karena perkembangan otot pada anak terjadi mulai dari kepala lebih dulu, kemudian ke kaki.

B. Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Tahap selanjutnya pada psikologi perkembangan anak usia dini adalah perkembangan kognitifnya. Usia dini bukan hanya waktu untuk perkembangan fisik, tetapi juga waktu untuk anak mengembangkan kemampuan kognitifnya. Termasuk dalam perkembangan kognitif yaitu memori, pemecahan masalah, kemampuan berpikir, dan penalaran yang akan muncul selama masa kanak  – kanak dan berkembang. Ada beberapa tahap perkembangan kognitif anak yaitu:
  • Tahap Sensorimotor
Tahap ini berada pada periode selama usia anak 0-2 tahun, ketika pengetahuan anak tentang dunianya dan lingkungannya masih terbatas melalui penerimaan indera dan geraknya. Tingkah laku anak terbatas pada respons motorik sederhana berdasarkan rangsangan sensoriknya. Misal, gerak refleks, mengembangkan cara dan kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menarik minatnya, dan lain – lain.
  • Tahap Pra Operasional
Tahap ini berada pada usia anak 2-6 tahun ketika anak sudah mulai belajar untuk menggunakan bahasa. Saat ini anak belum mengerti tentang logika, belum dapat memanipulasi informasi secara mental dan belum mampu mengambil sudut pandang orang lain tentang suatu masalah.
  • Tahap Konkret Operasional
Suatu tahap saat anak berusia 7 -11 tahun ketika ia sudah mulai mengerti cara berpikir rasional. Anak sudah bisa melakukan tugas seperti menyusun, membagi, melipat, memisahkan, menggabungkan, dan menderetkan. Walaupun sudah mulai dapat berpikir secara logis, namun anak masih mendapatkan kesulitan untuk berpikir secara abstrak.
  • Tahap Formal Operasional
Periode yang berada saat usia anak memasuki 12 tahun hingga dewasa. Anak sudah mulai dapat berpikir secara hipotetis, yaitu menggunakan kemampuan hipotesis secara relevan untuk memecahkan berbagai masalah. Anak juga sudah mampu menampung berbagai hal yang sifatnya abstrak, seperti pelajaran matematika dan lain – lain. Pada tahap ini juga ada kajian tentang psikologi remaja.

C. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Sepertinya tidak ada yang lebih menakjubkan orang tua daripada menyaksikan buah hatinya berkembang dari hanya mampu mengucapkan satu – dua patah kata hingga menjadi kalimat lengkap dalam waktu singkat. Tahap perkembangan bahasa pada anak yaitu:
Tahap Pra Lingual
Tahap ini terjadi ketika anak berusia 0-1 tahun. Pada tahap ini anak berkomunikasi dengan mengoceh kepada orang tuanya atau orang terdekatnya. Anak menerima stimulus dari luar dengan pasif, namun akan dapat menunjukkan respon yang berbeda pada tiap orang. Misal, anak akan tersenyum kepada ayah atau ibunya, tetapi bisa juga menangis ketika didekati orang yang belum ia kenal.
Tahap Lingual
Tahap Diferensiasi

D. Perkembangan Sosio – Emosional Anak Usia Dini

Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan tahap yang sangat penting bagi anak. Tahap ini juga bersinggungan dengan kajian psikologi sosial. Perkembangan ini akan dipengaruhi juga oleh kedekatan atau interaksi anak dengan orang tuanya, sehingga menentukan kemandirian anak dan pembentukan karakter anak yang positif kelak. Kecerdasan emosional dalam psikologi penting untuk dipelajari. Bila anak mengembangkan kemampuan sosio emosionalnya dengan baik, ia juga akan memiliki kecerdasan interpersonal dan  yang membuatnya mudah berbaur dalam masyarakat.
Interaksi sosial anak melingkupi keluarga, rumah, sekolah dan masyarakat. Ahli Psikoanalis Erik Erikson yang mengemukakan teori psikososial Erikson berpendapat bahwa dalam setiap tahap kehidupannya, manusia akan selalu mengalami konflik yang berbeda. Lingkungan dan pengalaman akan menentukan apakah seseorang akan mengembangkan karakter yang positif atau negatif sebagai hasil dari pengalamannya terhadap berbagai konflik tersebut.

Perkembangan Moral Anak Usia Dini

Ketika mempelajari psikologi kepribadian atau teori psikologi kepribadian, akan ditemukan bahwa anak – anak dapat berkembang memiliki beragam kepribadian, salah satunya kepribadian ambivert. Semuanya didasari dengan nilai – nilai moral yang mereka pelajari sejak kecil.
Secara moral, anak hanya akan memahami bahwa larangan atau hukuman yang mereka terima disebabkan karena apa yang dilakukannya bisa membuat orang lain atau dirinya sendiri dalam kesulitan. Anak usia dini masih memiliki peraturan sendiri dan tidak paham apa yang dilakukannya itu benar atau salah.
Kebanyakan orang baru bisa mempelajari nilai moral yang sesungguhnya pada usia pertengahan kedewasaan, karena itu mempelajari perilaku yang baik merupakan salah satu bagian dari tugas perkembangan psikologi anak usia dini.
Sangat penting bagi orang tua dan guru untuk memahami perkembangan psikologi anak terutama sejak usia dini, karena pada masa emas ini anak akan mulai sensitif terhadap berbagai rangsangan yang diterimanya dan akan menumbuhkan tingkat kepekaan berbeda sejalan dengan pertumbuhannya.
Ada beberapa tipe kepribadian manusia, yang semuanya dapat dihasilkan dari pembentukan karakter sejak usia dini. Pengaruhnya terhadap kehidupan anak kelak akan sangat besar, dan tidak dapat terulang untuk kedua kalinya. Karena itulah sangat dianjurkan agar orang tua atau guru dapat lebih kritis terhadap setiap tahap perkembangan anak.

Sumber : https://dosenpsikologi.com/psikologi-perkembangan-anak-usia-dini

3 Teori Psikologi Klinis

3 Teori Dalam Psikologi Klinis



Hasil gambar untuk psikologi klinis
Psikologi klinis merupakan salah satu ilmu dari Cabang-cabang psikologi .Ilmu psikologi ini digunakan sebagai ilmu yang memfokuskan studi pada perilaku jenis-jenis  prilaku abnormal atau subnormal. Jika lebih diluaskan lagi, psikologi klinis merupakan ilmu psikologi yang mempelajari serta membahas mengenai rintangan dan kesulitan emosional dalam diri manusia, dan tidak memandang apakah orang tersebut termasuk ke dalam abnormal atau tidak. Berikut ini beberapa pemahaman psikologi klinis menurut pendapat beberapa para ahli:

Istilah Lain Dalam Psikologi Klinis

  • Menurut Witmer (1912), psikologi klinis merupakan metode yang digunakan untuk dapat mengubah dan mengembangkan jiwa seseorang berdasar pada hasil dari observasi serta eksperimen yang menggunakan teknik penanganan pedagosis.
  • Menurut American Psychological Association (1935), psikologi klinis adalah bentuk dari psikologi terapan yang digunakan untuk menentukan kapasitas serta karakteristik tingkah laku dari individu yang mana menggunakan metode pengukuran assement, observasi, analisa, uji fisik, serta riwayat sosial agar mendapatkan saran dan rekomendasi yang digunakan individu untuk bisa menyesuaikan diri dengan tepat.
  • Menurut J.H Resinck (1991), psikologi klinis merupakan bidang ilmu di dalam psikologi yang mana meliputi riset, pelayanan, serta pengajaran yang berkaitan akan prinsip-prinsip, metode, serta prosedur aplikasi yang digunakan untuk memahami, menduga, serta mengurangi ketidakmampuan dan ketidak nyamanan yang diterapkan dalam populasi klien dalam jangkauan yang lebih luas.
  • Menurut Phares, psikologi kilinis merupakan bidang ilmu yang membahas dan mengkaji tentang diagnosis dan intervensi tentang penyembuhan masalah psikologis serta gangguan dan tingkah laku abnormal.
  • Menurut Reber (1995), psikologi klinis adalah bidang psikologi yang berkaitan tentang perilaku menyimpang, abnormal, ataupun maladaptif.
  • Menurut APA Division (1992), psikologi klinis mengintegrasikan ilmu, teori serta praktek untuk dapat memahami, memprediksi, serta mengurangi ketidaknyamanan dan distabilitas bahkan dapat memperbaiki adaptasi dan perkembangan pada pribadi manusia. Psikologi klinis memiliki fous pada aspek-aspek yang emosioanl, intelektual, psikologis, biologis, perilaku, dan sosial dari fungsi manusia di sepanjang hidupnya dan dalam berbagai macam budaya yang ada di semua tingkat sosial-ekonomi.
Yap Kie Hien (1968) menjelaskan jika terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk psikologi klinis, adapun istilah-istilah tersebut antara lain adalah:
  • Psikopatologi, bidang ilmu yang mempelajari tentang patologi atau kelainan kejiwaan. Istilah ini sering digunakan dalam bidang psikiatri. Sebenarnya psikopatologi tidak masuk ke dalam psikologi klinis. Namun seorang ahli psikologi klinis harus dapat menguasai ilmu ini untuk bisa berhasil dalam diagnostiknya.
  • Psikologi Medis, penjabaran dari psikologi kepribadian dan umum yang diperuntukkan untuk ilmu kedokteran. Tujuan dari ilmu ini untuk dapat melengkapi ilmu pengetahuan dokter mengenai gambaran biologis manusia serta gambaran kehidupan kejiwaan, pengamatan, fungsi-fungsi psikis, afek, berpikir, dan kehidupan perasaan yang terjadi pada manusia normal.
  • Psikologi abnormal, istilah ini mulai populer di tahun 50an. Dan diciptakan oleh beberapa psikolog yang menginginkan adanya klasifikasi kondisi yang tidak normal yang mungkin saja terjadi pada individu.
  • Psikologi konflik dan Pato-psikologi, istilah ini diusulkan dengan tujuan untuk bisa menunjukkan jika seseorang yang membutuhkan bantuan psikolog tidak selalu dikategorikan “sakit”. Pertolongan diberikan pada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan yang sampai menganggu keseimbangan
  • Mental Health dan Mental Hygiene, untuk istilah mental hygiene lebih berkaitan erat dengan bidang kedokteran. Lebih banyak membahas terkait penyembuhan . Sedangkan untuk mental health  lebih banyak membahas dari sisi preventifnya. Tugasnya untuk bisa memelihara dan mempertahankan kesehatan mental serta mencegah agar tidak terjadinya gangguan mental.


Ruang Lingkup Psikologi Klinis



Berdasarkan definisi-definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, psikologi klinis memiliki beberapa ruang lingkup spesifik, antara lain adalah:
1. Penelitian
Penelitian yang ada di dalam psikologi klinis bertujuan untuk dapat membuktikan adanya kebenaran dalam sebuah teori yang ada di dalam praktek untuk memahami keunikan perilaku, pikiran, dan perasaan seseorang. Contohnya saat melakukan penelitian yang ditujukan untuk bisa meramalkan kerentanan yang terjadi dalam individu pada serangan depresi menggunakan metode pendekatan penelitian yang tepat.
2. Assesment
Assesment adlaah proses untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang klien yang dipergunakan untuk bisa memahami lebih baik tentang dirinya yang nantinya akan digunakan menjadi dasar untuk pengambilan keputusan untuk proses selanjutnya.
3. Intervensi
Secara umum, intervensi merupakan upaya yang digunakan untuk mengubah pikiran, perilaku, serta perasaan seseorang yang mana meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi yang diperuntukkan menolong orang-orang untuk mengasti permasalahan serta mengembangkan kehidupan yang lebih memuaskan.


Teori Dalam Psikologi Klinis

Teori-teori yang ada di dalam psikologi klinis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teori psikologi kepribadian, nah berikut ini beberapa teori-teori yang digunakan dalam psikologi klinis:
1. Teori Psikoanalisa – Sigmund Freud
Psikoanalisis adalah analisa atau pemeriksaan yang dilakukan secara cermat terhadap pikiran. Sedangkan psikodinamika lebih menekankan pada berbagai macam kekuatan serta konflik mental dan emosional yang berkaitan dengan pemikiran. Memfokuskan pada impuls-impuls yang tidak sadar dan trauma yang terjadi di masa anak-anak serta pentingnya pertahanan kecemasan. Psikoanalisis digunakan untuk proses terapiotik yang diperuntukkan untuk pasien psikoneurotik yang menggunakan metode standard di dalam konteks medis.
Ada beberapa asumsi-asumsi psikodinamika tentang perilaku manusia yang berkaitan dengan masalah psikologis:
  • Psikodinamika menganggap jika perilaku manusia akan sangat dipengaruhi dorongan intrapsikis, konflik, motif, serta impuls yang tidak disadari.
  • Ada beragam mekanisme pertahanan ego, dalam bentuk adaptf dan maladaptif yang berkaitan dengan konflik-konflik yang belum atau tidak terselesaikan, harapan, kebutuhan , serta khayalan yang sangat berpengaruh pada perilaku normal ataupun tidak normal.
  • Pengalaman serta hubungan yang terdahulu, misalnya seperti hubungan yang terjadi antara anak-anak dengan orang tua, yang mana memainkan peran yang cukup penting di dalam perkembangan psikologis serta perilaku orang dewasa.
  • Pemahaman tentang implikasi-implikasi ketidaksadaran yang ditambah dengan kerja sama mereka yang mengarah ke kehidupan sehari-hari akan sangat membantu untuk meningkatkan fungsi perilaku dan psikologis.
Perspektif yang dijelaslakn dalam analisis Freudrian Klasik menjelaskan pemahaman perilaku manusia didasarkan pada 3 struktur mental yang terjadi di dalam konflik psikis yaitu Id yang terbentuk semenjak manusia lahir dan berpinrisp pada kesenangan yang mewakili hasrat primitif, keinginan, dan kebutuhan. Ego, terbentuk saat berumur kurang lebih 1 tahun dan lebih berdasarkan prinsip realitas serta mewakili bagian pemikiran yang rasional dan kepribadian yang dapat membantu seseorang untuk bisa beradaptasi. Dan Superego terbentuk saat berusia  5 tahun dan mewakili bagian internalisasi seperti norma kekeluargaan, sosial, budaya, dan lainnya. yang masuk ke dalam superego merupakan ego ideal yang mana menjadi gambaran lengkap seseorang mengenai tentang siapa dirinya sebenarnya dan suara hati. Suara hati ini akan berkaitan dengn apa yang dipikirkan sebagai benar maupun salah.
2. Teori Behaviorisme (Perilaku Kognitif) – BF Skinner
Pendekatan behavioristik pada psikologi klinis menjelaskan jika perilaku dapat dikontrol bahkan dimanipulasi dengan cara memberikan reinforsemen pada orang-orang yang perilakunya seusia dengan keinginan, dan terdapat hukuma ketika perilaku yang dilakukan tidak sesuai. Banyak orang yang beranggapan jika teori ini tidak memperdulikan pada perilaku yang tidak bisa diamati semisal khayalan dan perasaan.
Secara umum, pendekatan kognitif-behaviora menggambarkan tentang teori behaviorisme dari sisi psikologi kognitif. Namun meskipun begitu, masih banyak teoris yang lebih menggunakan pendekatan kognitif serta metode pemroses informasi sehingga lebih memperkaya teori serta aplikasi mereka. Pendekatan ini secara historis lebih berdasar pada prinsip belajar yang dikemukakan B. F. Skinner, Edward Thorndike, Clarke Hull, John Watson, Ivan Pavlov, William james, dan masih banyak lainnya. Pendekatan kognitif-behavioral lebih berfokus kepada perilaku yang tampak serta perilaku yang tidak tampak yang didapatkan dari proses belajar dan kondisioning saat berada di lingkungan sosial.
Asumsi dasarnya adalah untuk fokus pada pengalaman-pengalaman terkini dibandingkan pengalaman yang sebelumnya, penekanan pada perilaku yang dapat diukur dan diamati, pengaruh pentingnya lingkungan pada perkembangan perilaku normal maupun abnormal, serta penekanan yang terjadi pada metode penelitian empiris yang digunakan untuk mengembangkan strategi, intervensi assessmen, serta perawatan.
3. Teori Humanistik – Carl Rogers
Teori Psikologi Humanistik menggunakan asumsi-asumsi pendekatan phenomenological yang lebih menekankan pada setiap individu mengenai persepsi pengalaman dunianya. Dalam perspektif humanistik lebih cenderung melihat seseorang yang aktif, kreatif, berpikir, dan pertumbuhan orientatif. Mmebantu orang melalui cara pemahaman akan perhatian, perilaku, perasaan melalui mata klien. Ahli humanistik memang cenderung mengasumsikan seseorang yang berdasar pada intensinya dan percaya jika mereka bekerja keras secara alami menuju arah pertumbuhan, kreativitas, cinta, serta aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini lah yang kemudian dapat membantu menuju arah kemajuan di dalam kehidupan, pertumbuhan yang lebih baik dan damai, serta menerima lebih tajam dan lainnya. Bukan memfokuskan diir pada masa lalu, namun lebih kepada apa yang ada “disini dan sekarang”.
Berdasar pada keyakinan jika setiap individu memiliki potensi alamiah yang dapat tumbuh menuju ke arah yang lebih tinggi lagi secara psikologis. Carls Rogers dan dengan teorinya yang memiliki pusat pada self. Konsep diri yang dijabarkan oleh Rogers mengenai bagaimana orang dapat memberikan gambaran mengenai dirinya, tentang siapa dirinya. Rogers menggambarkan jika orang yang tidak sehat merupakan orang yang tidak memiliki unconditional positive regard.

Psikologi klinis tidak hanya berorientasi pada orang-orang yang terkena gangguan jiwa saja, hal ini karena banyaknya anggapan masyarakat yang berpendapat jika RSJ (Rumah Skait Jiwa) merupakan tempat ditampungnya orang-ornag yang gila. Hal ini ssama sekali tidak benar. Orang-orang yang terkena gangguan paranoid, psikosomatis, insomnia, amnesia, dan lainnya adalah penyakit yang harus diatasi langsung oleh psikiater karena erat kaitannya dengan gangguan pikiran, psikis dan kognisi bukannya pada fisik.
Selain itu, psikologi klinis juga sangat membantu pada orang-orang yang memiliki masalah maupun kesulitan pada kondisi psikologinya. Nantinya psikologi klinis dapat berusaha untuk memahami manusia dan menolong individu tersebut dari tekanan dan masalah yang dihadapinya. Nah itu tadi penjelasan mengenai teori-teori dalam psikologi klinis. Semoga informasi diatas dapat bermanfaat untuk anda.

Sumber : https://dosenpsikologi.com/teori-dalam-psikologi-klinis